96 Merek Susu Tidak Mengandung Bakteri Enterobacter Sakazakii


04 Apr 2008 Hasil penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap 96 sampel yang mewakili seluruh merek susu yang terdaftar, membuktikan bahwa tidak ada sampel yang mengandung Enterobacter Sakazakii (ES). Semuanya aman dikonsumsi. Pengujian dilakukan dengan menggunakan 2 metoda yaitu US-FDA dan ISO/TS 22964: 2006, baik pada produk dalam negeri maupun luar negeri, termasuk pada susu dengan harga murah.Pengujian terhadap 96 sampel susu formula bayi ini dilakukan BPOM sebagai tindak lanjut atas penelitian yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2003. Hasil penelitian IPB mengungkapkan bahwa Enterobacter sakazakii ada di dalam susu formula. Tidak hanya ES, bersamaan BPOM secara rutin juga melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya cemaran lain seperti cemaran kimia, cemaran fisik, cemaran logam berat, cemaran fungi, dan lainnya.

Demikian pernyataan Kepala Badan POM Husniah Rubiana Thamrin Akib di kantor Departemen Komunikasi dan Informatika, Rabu (2/4), saat jumpa pers mengenai hasil penelitian terhadap susu formula. Hadir dalam acara ini Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes dr. Lily S. Sulistyowati, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Sukman T. Putra, dan Ahli Mikrobiologi dari Universitas Indonesia dr. Ir. Pratiwi Sudarmono, Ph.D. Pemeriksaan ES memerlukan biaya yang sangat mahal. Untuk mengurangi risiko terinfeksi bakteri ES ada beberapa cara, diantaranya yaitu membuat susu sekali diminum habis untuk menghindari susu berada di suhu ruang terlalu lama. Rebus air minum pembuat susu sampai mendidih dalam ketel/panci tertutup. Setelah mendidih, biarkan air tersebut dalam panci tertutup agar suhunya turun menjadi 700C. Tuangkan air sesuai dengan ukuran ke dalam botol susu yang telah disterilkan. Tambahkan susu bubuk sesuai takaran dan kebutuhan. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik. Dinginkan dengan merendam bagian bawah botol susu dengan air bersih dingin. Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 2 jam. Ahli Mikrobiologi UI dr. Pratiwi mengatakan dengan hasil penelitian ini masyarakat tidak perlu ragu lagi untuk mengonsumsi susu formula, namun demikian ASI tetap yang terbaik. Sementara itu, pemberian air tajin dan susu sapi segar tidak dianjurkan pada bayi, mengingat kebutuhan bayi yang tidak dapat dipenuhi dari dua minuman tersebut. Menurut Pratiwi, produk pangan diolah melalui suatu proses industri yang mengikuti good manufacturing production sebagaimana telah ditentukan oleh BPOM. Untuk semua produk yang beredar di Indonesia, baik hasil akhir maupun prosesnya akan dilihat oleh pengawas (BPOM). Semua produk terbuka untuk publik. Dengan demikian publik selalu bisa ikut melihat dan mengawasi prosesnya. Konteksnya dengan ES, memang dapat menyebabkan sakit, tapi pada kondisi yang sangat spesifik seperti bayi berat lahir rendah atau bayi prematur. Kemungkinan seseorang terkena bakteri ES menurut Badan Pangan Dunia (FAO) adalah 10-7, artinya 1 dari 10 milyar orang pada saat yang sama dimanapun kemungkinan terinfeksi ES. Oleh karena itu, selama kurun waktu 40 tahun hanya ditemukan 40 kasus di seluruh dunia. Menurut Pratiwi, bayi yang terinfeksi ES tidak terjadi di rumah atau perkampungan melainkan di RS yang merawat bayi sakit atau sangat lemah dan kemungkinan besar dapat terjadi kontaminasi. Sementara itu, Ketua Umum IDAI dr. Sukman menyatakan perlunya investigasi atas berita yang menyatakan adanya bayi yang meninggal setelah minum susu. Menurutnya penyelidikan ini perlu dilakukan mengingat dalam waktu yang sangat singkat, dalam keadaan emergency bayi dapat tiba-tiba meninggal. “Ini bisa karena masuknya cairan ke paru-paru. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan susu yang diminum. Air juga bisa masuk ke paru-paru bila bayi dalam keadaan tidak sehat”, tegasnya. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: